Mengenal Kopi Lebih Dekat

Ditulis tanggal 20 November 2007

Kenapa anda ke Starbucks? Karena kopinya enak? Bagaimana kalau anda bisa membuat kopi yang (jauh) lebih enak di rumah, atau di kantor? Semua bahan2nya tersedia. Indonesia ini salah satu penghasil kopi terbaik di dunia kok. Yang anda perlukan hanya sedikit tambahan pengetahuan tentang kopi dan alat yang tepat.

Bagi sebagian orang, minum kopi setiap hari merupakan satu keharusan. Di samping rasanya enak, kopi juga punya banyak manfaat (ada beberapa salah pengertian tentang efek negatif kopi yang dijelaskan di sini). Lalu mengapa kopi yang dijual di kebanyakan coffee shop lebih “enak” rasanya dari kopi yang kita buat sendiri di rumah? Ada beberapa faktor, antara lain:

1/ Arabica vs Robusta

Kebanyakan kopi yang kita minum adalah kopi Robusta (kalaupun di-blend, persentase kopi Robustanya biasanya lebih banyak), yang kualitasnya di bawah kopi Arabica. Kenyataannya kopi2 Arabica terbaik dari Indonesia lebih banyak diekspor daripada beredar di pasaran dalam negeri -satu hal yang secara bisnis dapat dimaklumi- di sisi lain menyebabkan rata2 orang Indonesia tidak bisa menikmati hasil terbaik dari negerinya sendiri. Tapi kalau kita mau cari, di supermarket2 biasanya ada kok. Cuma harganya sedikit lebih mahal dibandingkan kopi Robusta/blend.
Tabel perbandingan kopi Arabica vs Robusta bisa dilihat di sini. Kalau masih ada yang kurang yakin mengenai perbedaan kualitas dan rasa kopi Arabica vs Robusta, bisa dibaca di bagian “Tentang Espresso”.

2/ Kopi Biji dan Kesegaran Kopi

Mungkin belum banyak yang tahu (atau belum yakin?) bahwa kesegaran kopi sangat sangat berpengaruh pada kualitas minuman kopi yang dihasilkan. Biji kopi akan menurun kualitasnya secara drastis sekitar 10 hari setelah digoreng/digongseng, juga akan kehilangan sebagian besar elemen rasa dan aromanya hanya beberapa detik setelah digiling. Itu sebabnya semua coffee shop menggiling kopinya hanya sesaat sebelum diekstraksi. Kalau kita biasa membuat kopi dari kopi bubuk, coba bayangkan sudah berapa umur kopi itu sejak digiling? Coba perhatikan siapa tau sudah ada jenggot yang tumbuh di dagunya. Hehehe..
Jadi ada 2 masalah yang harus dipecahkan di sini:
a/ Di mana kita bisa mendapatkan kopi yang benar2 fresh (kurang dari 10 hari setelah digongseng)?
Coffee roaster memang masih jarang di Indonesia, tapi saya yakin paling tidak ada 1 coffee roaster di kota2 besar di Indonesia. Kalau tidak, dari mana coffee shop mendapatkan fresh coffee-nya? Tugas anda adalah menemukan mereka :-)
b/ Sebaiknya kita menggiling kopi kita sendiri, dan mengekstraksi kopi secepatnya setelah digiling.
Maka kita membutuhkan mesin penggiling kopi (selanjutnya disebut grinder). Yang membawa kita ke faktor berikutnya..

3/ Grinder

Tentu saja kita tidak perlu memiliki grinder seukuran yang biasanya dipakai di coffee shop, tapi kualitas grinder juga sangat sangat penting. Grinder yang baik akan menghasilkan bubuk kopi yang ukurannya konsisten/seragam, sedangkan yang kurang baik akan menghasilkan bubuk kopi dengan ukuran butiran tidak sama. Ketidakseragaman ukuran butiran akan menyebabkan butiran yang berukuran lebih kecil akan terekstraksi secara berlebihan sedangkan yang berukuran lebih besar kurang terekstraksi. Bingung? Coba bayangkan tablet effervescent (Redoxon dan teman2nya -maaf menyebut merk :-) ). Bagi menjadi 2 bagian yg berukuran tidak sama, kemudian masukkan ke dalam segelas air. Yang berukuran lebih kecil larut lebih dulu kan? Juga bila anda menggunakan press pot, butiran2 yang sangat kecil akan lewat dari saringan. Secara keseluruhan, minuman kopi yang dihasilkan menjadi kurang maksimal.
Secara umum ada 2 macam grinder:
a/ Blade Grinder (menggunakan semacam pisau untuk menggiling, hampir seperti blender)
Sangat tidak disarankan untuk menggiling kopi karena tidak bisa menghasilkan ukuran butiran yang seragam.
b/ Burr Grinder (menggunakan gigi2 seperti bor untuk menggiling). Ada 2 macam:
- Conical Burr Grinder: grinder terbaik di pasaran.
- Flat Burr Grinder: kualitasnya sedikit di bawah conical burr, namun dijual dengan harga lebih terjangkau.
Ada beberapa burr grinder untuk home-use (seperti Bodum Antigua, atau Solis Maestro Plus) yang berkualitas baik.

4/ Tentang Espresso

Satu lagi hal penting yang sering kita lupakan dalam membuat kopi adalah suhu yang tepat. Dalam biji kopi yang telah digongseng sudah terdapat gula yang terkaramelisasi. Jadi bila anda mengekstraksi kopi dengan suhu yang benar2 tepat, anda tidak akan perlu menambahkan gula untuk mendapatkan rasa manis. Suhu terlalu tinggi akan membakar kopi (+gulanya) sehingga rasanya menjadi lebih pahit, sedangkan suhu terlalu rendah akan meningkatkan kadar keasamannya. Kalau ada yang pernah coba minum kopi+air dingin kemudian sakit perut, itu karena tingkat keasamannya terlalu tinggi. Ruwetnya lagi, kopi dari tiap daerah mempunyai suhu optimal yang berbeda. Tapi jangan khawatir. Ada satu cara untuk mengeliminasi masalah ini: mesin espresso.
Mesin espresso bisa menyediakan suhu yang tepat dan stabil sepanjang proses ekstraksi kopi. Itulah sebabnya saya berpendapat bahwa espresso yang sempurna adalah bentuk sempurna dari minuman kopi (meskipun saya bukan peminum espresso sejati. Saya selalu mencampurkan susu ke dalam espresso saya :-) ). Keunggulan espresso:
a/ Selain memaparkan air kepada butiran kopi dengan suhu yang tepat dan stabil, mesin espresso juga menekan butiran2 kopi dengan tekanan tinggi (9-10 bar). Masing2 butiran kopi diekstraksi secara maksimal sehingga karakter rasa dan aromanya benar2 berpindah hampir seluruhnya ke cangkir anda. Coba saja ekstraksi kopi Robusta dengan mesin espresso, anda akan tahu mengapa harganya lebih murah dari kopi Arabica yang berasal dari daerah yang sama :-)
b/ Karena suhunya tepat, espresso bisa langsung diminum begitu disajikan; atau lebih tepatnya harus langsung diminum begitu disajikan. Karena suhu penyajiannya lebih rendah dari air mendidih, espresso cepat sekali menjadi dingin. Kopi lebih enak diminum hangat kan?
Bila anda suka menambahkan susu ke dalam kopi anda seperti saya, susu hangat dengan suhu kurang lebih sama dengan espresso yang baru disajikan akan bercampur dengan sendirinya tanpa perlu diaduk. Ini menyebabkan para ahli espresso bisa membuat berbagai macam “gambar” di permukaan kopi hanya dengan “mengakali” cara menuangkan susu ke atas kopinya, atau biasa disebut latte art. Di bawah ini ada beberapa contoh latte art. Kalau anda bisa membuat kopi anda terlihat secantik rasanya, tidak ada salahnya kan?

Pada artikel2 mendatang saya juga akan membahas mengenai teknik2 latte art. Tidak butuh waktu terlalu lama kok untuk belajar.

[foto contoh latte art]

Kesimpulannya, ada 3 hal utama yang menyebabkan minuman kopi yang kita buat di rumah mungkin tidak seenak yang kita beli dari coffee shop: pilihan kopi, kesegarannya, dan ketepatan suhu ekstraksinya. Bila bisa mengatasi 3 hal tersebut, seharusnya kopi kita akan jadi lebih baik. Tapi saya juga sadar bahwa rasa adalah masalah selera.
Semoga bisa membantu..

UPDATE: Artikel tentang “Belajar Latte Art” sudah bisa dibaca di sini.


Stumble it! | Digg! | Del.icio.us!

» Termasuk kategori Tentang Kopi

Komentar

14 Komentar untuk “Mengenal Kopi Lebih Dekat”

  1. handri pada 3 December 2007 11:02 pm

    menyenangkan lho kalo kita bisa berkreasi dengan minuman kegemaran kita. buktiin deh.

  2. Belajar Membuat Espresso | kopitips.com pada 10 December 2007 6:31 pm

    […] biji kopi secukupnya. Jangan giling terlalu banyak karena bubuk kopi yang tidak terpakai akan nge-drop kualitasnya bila tidak segera diekstraksi. Tidak perlu khawatir, sejalan dengan bertambahnya pengalaman anda […]

  3. Mencicipi Kopi | kopitips.com pada 19 December 2007 5:22 pm

    […] oleh indera perasa dan indera penciuman. Itulah sebabnya para ahli selalu menghirup aroma kopi dan wine sebelum […]

  4. Belajar Latte Art I: Pendahuluan | kopitips.com pada 13 January 2008 9:07 am

    […] artikel mengenai latte art akan saya bagi menjadi beberapa bagian. Seperti yang pernah saya bilang dulu, biasanya tidak perlu waktu terlalu lama kok untuk […]

  5. anto pada 28 April 2008 1:18 pm

    wuadhuh…
    untuk menikmati kopi degan segenap keragaman rasanya, ternyata dibutuhkan ALAT-ALAT bantu.
    mau bikin latte di rumah kok alatnya gak punya…
    bikin espresso pun samaaa…
    njuk,
    eh… lalu gimana bikin kopi latte tapi ‘versi rumahan’ gitu mas handri?

  6. Arvi pada 14 May 2008 12:14 pm

    Maaf mas, saya baru belajar minum kopi, jd blum prnah giling sendiri.
    Kalo beli mesin Grinder d bandung dmn ya?
    Tp yg harganya terjangkau! Haha!

  7. Arvi pada 14 May 2008 12:23 pm

    Itu kopi yg dilukis2 d atasnya buat apa? mubazir?
    Langsung minum aja, lejat!
    Kalo mau gmbar; kebun, pohon atau biji kopi aja, biar ngingetin asal mulanya kopi! Haha!

  8. fira pada 26 May 2008 2:57 pm

    mas, nanya dunx,,

    aku mau bikin penelitian tentang kandungan kafein di biji dan daun kopi, trus aku bingung.

    pertama, katanya bikin kopi harus pake grinder.
    aku jelas gak punya grinder.

    kedua, aku mungkin gak bisa beli, soalnya aku cuma untuk penelitian yang sifatnya sementara (aku bukan penggemar minuman kopi). apakah mas tau kira2 di mana bisa menggiling kopi? apa ada penyewaannya? apa harus pinjam? karena untuk ke-valid-an hasil penelitian kan harus dilakukan sendiri (gak bisa pake kopi instan dsb)

    ketiga, saya kos di surabaya, dan kebingungan untuk mencari pohon kopi (penelitian saya juga membutuhkan daun kopi). apa mas tau ada kebun kopi atau semacamnya di daerah sini?

    keempat, di artikelnya mas nulis kita harus cari tau di mana tempat coffee roaster. gimana caranya? apa kita harus ke cafe kopi dan tanya di sana? apa mereka mau ‘membocorkan rahasia perusahaan’?

    jawabannya saya tunggu secepatnya (banget, lho…)

    makasih ya, mas, atas jawabannya…

  9. any pada 30 May 2008 5:23 pm

    selamat sore
    saya tidak memberikan komentar, tetapi saya ingin lebih mengenal jauh dengan bapak.
    Kaitannya adalah karena kantor saya rencananya akan membuat semacam seminar dan pameran mengenai kopi yang akan diadakan di jakarta. Siapa tau kita dapat bekerja sama karena saya melihat bapak sangat paham sekali mengenai kopi.
    Mohon tanggapannya.
    Terima kasih

  10. handri pada 24 June 2008 3:00 pm

    mbak any,
    saya merasa tersanjung atas undangannya, tapi saya bukan ahli kopi kok, cuma penggemar saja. belum cukup qualified untuk jadi pembicara di seminar atau semacamnya. :)

  11. thomas pada 4 July 2008 12:24 am

    Kalo kita beli biji kopi yg msh ijo, trus sangrainya gimana? Apa sangrai biasa aja kayak kacang gitu?

    Biji kopi yg msh ijo itu tahan brp lama?

    Last but not least, di indo dimana bisa belinya?

    Thanks.

  12. Sondi pada 6 July 2008 8:50 pm

    wah, saya tertarik banget sm artikel ini.
    kebetulan saya suka banget sm kopi,terutama kopi tubruk karena aromanya yang lebih terasa.
    dan pikiran saya jadi terbuka mengenai pilihan grinder yang digunakan. saya menggunakan biji kopi robusta dengan grinder semacam blender.
    yang saya mau tahu lebih banyak, klo dalam pembuatan kopi tubruk, apa grinder seperti blender juga berpengaruh?
    klo bisa bikin artikel tentang kopi tubruk juga,karena saya suka sekali kopi tubruk.
    artikel yang hebat.

  13. yoxx pada 17 July 2008 12:41 pm

    awesome!

  14. Ai pada 22 July 2008 2:39 pm

    Hai semua.. mo numpang iklan..
    Dijual 1 buah mesin kopi Saeco Royal Cappucino. Baru. Digaransi resmi dari Saeco lho..

    Contact via email yang berminat ya..

    thx

Tulis Komentar




  • Tentang Kopitips

    Saya bukan ahli kopi, cuma pecinta kopi. Kalau ada informasi yang tidak lengkap atau kurang akurat, tolong tinggalkan komentar di bawah artikel yang bersangkutan.
    Terima kasih sebelumnya :-)

  • Kopitips merekomendasikan:

  • Komunitas

    Join My Community at MyBloglog! Add to Technorati Favorites

    eXTReMe Tracker